Awalnya berupa setitik tinta putih yang tak kasat mata, namun dengan kejelian dan ketekunan, didapati sebutir telur mini yang menyimpan keistimewaan didalamnya. Lambat laun, seiring berjalannya waktu, telur mini berganti menjadi ulat. Ulat kecil dengan ruang lingkup gerak yang tak bebas, semua serba terbatas dan dibatasi. Namun satu hal yang tidak terbatasi untuk si ulat kecil, sumber makanan yang tiada habisnya. Tentu saja si ulat menjadi makin gemuk, makin tak lincah bergerak. Disanalah proses mulai terasa, bergerak ke kanan sedikit, aduh tersenggol dahan. Bergerak ke kiri sedikit, oh tidak tak ada pengaman disana, aku bisa terjatuh dari tempat setinggi kurang lebih 2 meter diatas tanah, yang membawaku dekat dengan pintu kematianku. Huff.. aku hanya harus bergerak maju perlahan namun pasti, dan menemukan tempat ternyaman di sini. Berjalan maju, lambat dan pasti, sambil tak hentinya makan dan bersantai ria. Aha, disini tempat yang paling nyaman, tempat yang paling teduh, tempat yang paling aman. Terlindung dari panas matahari, terlindung dari basahnya air dan dinginnya angin malam, posisi yang pas. Segala sesuatu harus aku persiapkan disini, agar tak satupun dapat mengganggu aku, atau memindahkan aku dari sini.
Segala persiapan dimulai, si ulat mulai mengeluarkan air liurnya, untuk menyelimuti dirinya. Disitulah si ulat berdiam diri, diselubungi selaput tipis yang akan membuatnya nyaman dari dunia luar. Si ulat mulai membiasakan dirinya, dalam balutan selaput yang membuatnya nyaman. Dikiranya semua akan baik baik saja, tapi si ulat lupa, bahwa proses bisa terjadi di dalam sana, di balik selaput tipis itu. Fase kepompong membuat si ulat harus berjuang keras untuk bisa melewatinya. Pikir si ulat, seharusnya ini menjadi tempat yang paling nyaman bagiku, tapi ternyata proses terjadi bukan diluar melainkan di dalam selaput ini. Setiap fase di dalam perjalanan hidupnya dilewati dengan cukup baik, namun difase ini si ulat berjuang cukup keras untuk bisa bertahan hidup. Jika dia tak sanggup melewatinya maka dia akan mati di dalam kepompongnya sendiri. Aku harus bertahan, aku pasti bisa, kata si ulat. Makin hari prosesnya makin kuat dan terjadi terus menerus, si ulat tetap bertahan, dia yakin akan melewati semuanya seperti fase yang sebelumnya.
Waktu bergulir dan tak terasa telah sekian lama proses terjadi di balik kepompong. Si ulat tetap bertahan dan berhasil melewati fase ini. Di ujung penantiannya si ulat tak menyadari bahwa dirinya bukan lagi menjadi ulat gemuk yang susah bergerak dan lamban. Waktunya telah tiba, dan saatnya untuk keluar dari kepompong, tubuhnya yang mulai bermetamorfosis membuat kepompong mulai robek. Diliahatnya cahaya mulai terlihat dari dalam kepompong itu. Ah, kiranya ini waktu bagiku untuk keluar dari kepompong ini, rasanya kepompong ini mulai sempit dan tak muat lagi, katanya. Perlahan dia mulai merobek sedikit demi sedikit kepompong yang membalut tubuhnya dengan menggunakan kaki kaki kecil yang dimilikinya. Sedikit demi sedikit, kepalanya mulai muncul, oh tidak ternyata selama ini aku bergantung pada dahan pohon, ujarnya. Jika aku tidak berpegangan, aku akan terjatuh. Tak disadari si ulat bahwa dia bukanlah ulat, bahwa dia mempunyai sayap sayap indah yang dapat digunakannya. Dia berpegangan pada ujung kepompong, berusaha mengeluarkan seluruh tubuhnya. Sebagian tubuhnya telah berhasil dia keluarkan, menunggu sebagian lagi, makin kuat dia berpegangan, dan SEMPURNA. Tubuhnya keluar dengan utuh, tanpa ada bagian yang hilang. Dia menjadi lega, sayapnya mulai mengepak kecil, hah? Sayap? Aku bukan ulat lagi, aku Kupu kupu. Ternyata selama ini proses di dalam kepompong mengubahku menjadi Kupu kupu. Lihat sayap sayapku, indah dan berwarna warni, elok dan cantik. Dan lagi, sekarang aku bisa terbang, banyak tempat dan wilayah bisa kujangkau, meskipun itu jauh. Sekarang aku tak lagi hanya berdiam di tempat ini, namun aku akan pergi dan menemukan tempat indah dan nyaman disana. Oh Tuhan, terima kasih atas fase kepompong yang telah kulewati, terima kasih karna telah menghadiahi ku sayap sayap indah ini, aku berjanji akan melakukan tugasku sebagai Kupu kupu sebaik yang aku mampu lakukan. Kupu kupu pun terbang, menghinggapi bunga bunga dan melakukan tugasnya dengan baik.
Ketika kepompong berubah menjadi kupu kupu, bukanlah sebuah proses yang mudah. Di dalam kepompong itulah jati diri kupu kupu mulai digali, mulai ditemukan, dan mulai kembangkan hingga menjadi kupu kupu yang sempurna. Prosesnya bukan bersingungan dengan dunia luar, namun proses karakter, proses hati, proses pemikiran di mulai dari sana. Ulat yang hanya terdiri dari kepala yang menjadi satu dengan tubuhnya, perlahan mulai menunjukkan bagian tubuh yang jelas. Kepala terpisah dengan tubuhnya, tubuhnya mengeluarkan sayap sayap dan kaki kecil, identitasnya sebagai kupu kupu jelas terlihat. Demikian dengan kita, saat proses mulai terjadi itu artinya Tuhan ingin kita menemukan identitas kita sebagai anak Tuhan. Terkadang proses juga mengingatkan kita akan tugas dan tanggung jawab kita. Ingat tugas dan tanggung jawab kita, bukan posisi atau jabatan kita. Entahlah kita seorang pemimpin atau tidak sekalipun, sebagai anak Tuhan kita punya tugas dan tanggung jawab yang sama menjadi garam dan terang dunia, memberitakan injil, membawa orang yang belum mengenal Tuhan untuk datang dan mengenalNya. Apa posisimu hari ini? Apakah engkau seorang anak? Orang tua? Karyawan? Pemimpin atau apa pun itu, jadilah berkat dan terang di manapun kamu ditempatkan. Seperti Kupu kupu tadi berjanji akan melakukan tugasnya sebaik mungkin sebagai Kupu kupu. Selama kita hidup dan bernafas, berarti masih ada kesempatan untuk dengan tekun dan setia melakukan tugas dan tanggung jawab sebagai anak Tuhan.
Special Thanks to beloved sista, Erly Novia Tanadi, U’re the inspiration. Ure life is like a Butterfly, grow up like a Pupa into a Butterfly in Jesus’s Love. Keep flying high sistaa.. Support you always.. ^^ (easter)
2 comments:
Like this =D
Sekedar menambahkan, aku rasa yang perlu menjadi garam dan terang dunia bukanlah hanya orang2 yang menyandang status anak Tuhan.
Contohnya, dalam kisah Orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-37).
Jika menjadi garam dan terang dunia lebih menonjolkan perbuatan kasih seperti yang dilakukan orang samaria tersebut, mungkin keindahan sayap kita tidak hanya akan dinikmati oleh ruang lingkup anak2 Tuhan saja, namun semua orang.
Be blessed...
...and cheer up =)
Post a Comment