Friday, September 7, 2012

Ini Kisahku..


Ini Kisahku.. 
7 September 2012
Terduduk dalam sepi dan heningku, sambil memandang halaman kosong di layar komputer. Ingin rasanya beristirahat dari semua perjalanan ini. Tiba-tiba tanganku terhenti dan pikiranku mulai merenung. Merenungkan setiap jalan kehidupan yang telah aku lalui, yang sedikit banyak telah merubah aku. Jika orang yang tidak mengenalku akan berpikir aku lemah dan ringkih. Hatiku memang tidak sekuat pria, tapi hatiku tidak selembek kertas yang mudah robek. Terkadang air mata menjadi dinding kokoh untuk menjagai hatiku, supaya tdk ada seorangpun yang bisa melukainya.
Pikiranku melayang, teringat pertama kali orangtuaku menceritakan bagaimana kisahku semasa aku masih dibentuk dalam perut mama. Terduduk dalam kamar, sambil mencermati cerita mama. Kemana arah pembicaraan ini akan dilanjutkan?? Perasaanku jadi campur aduk, apa benar aku anak yang tidak diinginkan?? Tidak bisa memungkiri kenyataan, memang demikian adanya. Awalnya aku memang tidak diharapkan, terlalu dini untuk mempunyai anak lagi, setelah koko.Tapi Tuhan sayang padaku, Dia memberi aku kesempatan dan kemampuan untuk bertahan dan melawan setiap ramuan yang mencoba menjatuhkanku. Pada akhirnya, akulah pemenangnya...:D

Menjadi anak ke-2 membuatku jadi dimanja, kupikir lucu juga. Awalnya aku tidak diinginkan, tapi kemudian aku dimanja. hehehehe.. Waktu mama hendak memasukkanku ke bangku sekolah dasar, mama mengkhawatirkan kemampuan membacaku. Maklum sejak taman kanak-kanak, aku tidak begitu menonjol seperti koko. Tugas prakarya seni ataupun mata pelajaran, nilaiku standart. Di rumah, aku banyak bermain daripada belajar, itulah sebabnya mama cukup keras padaku, sewaktu aku mau sekolah. Aku ingat 1 bln sebelum sekolah, mama menghukumku, dan menyuruhku membaca satu buku habis sampai larut malam. Tidak bisa membaca, salah membaca, diulang sampai benar, jika tidak, ucapakan selamat tinggal pada bantalguling kecilku. Demikian setiap malam, mama menyuruhku membaca. Tapi sekali lagi, akulah pemenangnyaa... Aku berhasil mengeja dan membaca benar.

Tiba-tiba teringat masa-masa kuliahku. Masa-masa berat dalam hidupku. Tidak pernah aku melewati masa keras dan berat seperti demikian, sepanjang masa sekolahku. Naik angkutan umum pulangpergi, menghabiskan kurang lebih 3 jam di jalan. Harus mencukupkan diri, dengan uang bulanan yang sangat minim. Untuk tambahan uang jajan, orangtuaku menganjurkan untuk memberi les privat. Maka sejak semester 1 aku mulai mengambil pekerjaan part timeku sebagai guru private. Jangan berpikir aku punya banyak waktu bermain bersama teman-teman. Justru akulah yang tdk pernah berkumpul bersama dg teman-teman. sepulang kuliah, langsung pulang untuk memberi les private, dan setelahnya baru pulang ke rumah.Aku ingat, aku pernah menangis dan merasa marah dengan keadaanku. Hari itu aku memberi les private di daerah yang agak jauh dari rumah. Untuk kesana, aku harus naik angkutan umum, turun di depan gang, dan harus berjalan masuk utk bisa sampai di rumah muridku. Waktu itu hujan, dan banjir. Aku menelpon ke rumah berharap orang rumah mau menjemputku. Aku bersedia menunggu, asal mereka mau menjemputku, tapi nyatanya tidak... Sejujurnya ku katakan, aku sedih dan sekali lagi merasa tidak dibutuhkan. Aku terdiam dan menunggu disana hingga hujan sedikit reda. Saat hujan sudah reda, aku memutuskan pamit pulang. Berjalan dalam banjir dan dingin, dengan air mata yang jatuh menetes. Saat itu aku ingin berhenti dan melangkahkan kakiku ke arah yang lain. Tapi hatiku bilang, gapapa ester, semua akan lebih baik nanti. percaya saja, melangkahlah kemana seharusnya kmu harus melangkah. Kembali aku melangkahkan kakiku dengan berat dan susah payah karna harus melawan arus banjir. Sekali lagi aku bertahan dalam perjalanan hidupku, bertahan supaya imanku tidak gugur, dan tidak kecewa dengan Tuhan. Aku bertahan dan meyakini bahwa saat ini aku sedang menabur, dan percaya suatu saat aku akan menuai.Sekali lagi, aku adalah pemenangnya.. Aku mempercayai Tuhan, dan menunggu waktu menuai.

Ujian tidak berhenti sampai disana, vonis dokter cukup membuatku shock. Sekali lagi, kehidupan mengajakku untuk berjuang. Banyak pertimbangan yang harus aku pikirkan, namun akhirnya aku memilih berjuang melawan sakit ini. Aku berdoa pada Tuhan, supaya Dia memampukan aku, menguatkan aku lebih kuat dari sebelumnya. Dan.. Hualaa... Akulah pemenangnyaa... 

Hidup di bawah tekanan itu sudah seperti lingkungan tempat aku bertumbuh dan beradaptasi. Sejauh perjalanan yang aku lalui, aku sadar bahwa Tuhan meletakkan DNA pejuang dan mengajariku untuk menjadi wanita kuat. Aku ingat mama berkata, hidup itu perjuangan. Dari situ aku belajar bahwa tanpa perjuangan kamu tidak bisa ada di dunia ini. Saat kamu memutuskan kamu berhenti berjuang,maka kamu adalah mayat hidup, yang berjalan dan melewati hari-harimu tanpa tujuan, tanpa perjuangan. Tidak ada yang ingin dicapai.Hidup di bawah tekanan akan memunculkan karakter baru yang kuat, dan kekuatan yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Aku memutuskan untuk tidak berhenti berjuang selama Tuhan belum mengambil nafasku. Demikian juga karyaku, tidak akan berhenti sebelum putus nafasku... 
Keep dreaming, and make it happen.. 



Writen by : Cheerfuleaster