Tuesday, May 18, 2010

Waktunya Memulihkan Identitas - part 2

Seorang Ayah mempunyai 2 orang anak, sang Ayah sangat mengasihi keduanya, si Sulung dan si Bungsu.
Si Sulung adalah orang yang sangat taat dan menghormati ayahnya, apa yang dikerjakannya selalu dilakukan untuk menyenangkan sang Ayah. Si Sulung tidak mau mendukakan dan mengecewakan sang Ayah.
Jadi si Bungsu selalu melakukan hal yang terbaik dari dirinya..

Berbeda dengan si Sulung, si Bungsu tidak menghormati Ayah seperti Sulung menghormati Ayahnya, tidak taat, hampir hampir tidak pernah perduli dengan apa yang sang Ayah inginkan. Yang dipikirkan si Bungsu hanya kepentingan dirinya, dirinya dan sekali lagi hanya dirinya.. *ckckckck
Suatu kali si Bungsu meminta seluruh harta warisan bagiannya, karna dia ingin pergi meninggalkan rumah, dan mencoba peruntungan nasibnya di kota lain. Sang Ayah mengingatkan, disini lebih baik dari pada di kota lain anak-Ku, disini semua yang kau butuhkan telah tersedia, tempat perlindungan, kasih sayang, dan semua yang terbaik telah ada untukmu.
Si Bungsu membantah sang Ayah, cukuplah ikut campur dalam hidupku, mulai sekarang biarkan aku memilih jalan hidupku sendiri. Yang perlu Ayah lakukan hanya memberikan warisan yang menjadi bagianku, selanjutnya aku akan pergi, dan tidak akan merepotkan Ayah lagi. Dan bukankah masih ada Sulung yang akan menuruti semua kemauan Ayah ?
Sang Ayah tak mampu berkata- kata, telah dicobanya untuk menyadarkan Bungsu, tapi hati Bungsu telah menjadi keras karna ke-egoisannya. Dengan sedih hati sang Ayah membagikan bagian warisan ke pada si Bungsu, dan melepaskan kepergian si Bungsu.
Dengan hati menangis, sang Ayah melihat kepergian anaknya, dalam hati sang Ayah berharap, cepatlah pulang anak-Ku, Ayah menantimu di gerbang ini.

Mulailah si Bungsu melalui perjalanan hidupnya, tanpa sang Ayah.. Sendiri, atas pengertiannya sendiri, dengan hikmatnya sendiri. Tanpa sang Ayah tak banyak yang bisa dilakukan si Bungsu, yang dilakukannya hanya berfoya foya. Menyadari hartanya makin sedikit, si Bungsu mulai memutar otak mencari cara untuk melipatgandakan hartanya. Ditemukanlah cara instant yang bisa dilakukannya, menginvestasikan hartanya di meja Judi.. *sekali lagi dengan pengertian dan hikmatnya sendiri..
Tak ada hasil yang berarti yang didapat dari investasi di meja Judi, yang ada hanya kekalahan dan kekalahan, kehilangan, ketidakmujuran.. Hingga akhirnya habislah semua hartanya, bertepatan dengan musim paceklik yang datang di kota itu. Bahan Pangan menjadi mahal dan tidak terjangkau, bagi orang orang kecil, termasuk si Bungsu di dalamnya..
Celakala aku, kata si Bungsu, tak ada lagi harta padaku, dan musim paceklik datang, kemana aku pergi mencari perlindungan dan makanan. Si Bungsu mulai mencari teman temannya, tapi tak satu temannya mau menerimanya, hingga akhirnya si Bungsu memutuskan untuk mencari pekerjaan, apa saja asal bisa untuk tempat berlindung dan makan. Bekerjalah si Bungsu pada seorang Tuan tanah di kota itu, dan bekerja sebagai pekerja kasar.Saat sedang bekerja, teringatlah si Bungsu pada Ayahnya.. Teringat tentang perkataan Ayahnya, bahwa dirumahnya tersedia tempat berlindung, kasih sayang dan semua yang terbaik.
Tapi kemudian si Bungsu sadar, dia tidak lagi berhak atas semua itu, karna dia telah meninggalkan tempat itu.
Akhirnya si Bungsu memutuskan untuk kembali ke rumah, bukan sebagai anak Ayah, tapi sebagai pekerja.

Di kota asal si Bungsu, sang Ayah menanti nantikan kedatangan si Bungsu setiap harinya, dengan pandangan yang was was menanti sang anak pulang. Dari kejauhan dilihatnyalah si Bungsu pulang dalam keadaan lusuh tak terurus, sang Ayah segera berlari dan mendapatkan si Bungsu.
Si Bungsu yang melihat reaksi Ayah, terkejut dan berkata, Ayah aku telah bersalah terhadap Ayah, aku tak pantas lagi disebut anak Ayah, jadikanlah aku pekerjamu.
Tapi sang Ayah menyuruh pegawainya untuk menyiapkan pesta dan memakaikan pakaian dan cincin pada jarinya. Pesta ini berarti penyambutan kembali si Bungsu sebagai anak Ayah, memulihkan kembali identitas si Bungsu sebagai Anak Ayah..
Bagaimanapun namanya tetap si Bungsu, dan dia tetap anak Ayah.. ^^

3 comments:

Anonymous said...

duh... jadi pengen bikin si sulung dan si bungsu... =p =p =p

Cheerful Easter said...

welehh.. maksudnya dee??? =p

Anonymous said...

maksudnya jadi pengen memiliki anak...
karena memiliki anak tampaknya menyenangkan ^^
apalagi prosesnya =p